• LinkedIn

Minggu, 28 Juni 2015

MISTERI JENDELA KAMAR

01.50 // by KIBcentre //

Misteri Jendela Kamar

            Kejadian itu terus berulang setelah aku menempati rumah baruku ini. Rumah baruku lumayan luas, elite, dan dilengkapi dengan banyak jendela. Dari yang berukuran kecil sampai yang besar sekalipun ada di rumahku. Sehingga banyak tetangga yang menjuluki rumahku dengan sebutan “Rumah Kaca”. Pada suatu malam, tepatnya malam Jumat, aku mendengar suara yang cukup aneh dari salah satu jendela di kamarku. Jujur saja, aku merinding dan ketakutan yang teramat sangat. Aku takut kalau sampai terjadi hal-hal yang sangat merugikan diriku.
            Malam yang penuh ketegangan itu akhirnya berlalu, berganti dengan pagi yang cerah. Di kepalaku masih saja terngiang akan kejadian semalam. Tentu saja aku khawatir dan mengalami trauma yang berkelanjutan. Malam ketiga dan keempat, kejadian itu tak menggangguku lagi. Mungkin itu hanya orang iseng yang ingin mencoba menakut-nakutiku. Tapi, tetap saja aku harus waspada, bilamana orang itu datang kembali.
            Malam mengerikan itupun berlalu, cukup senang rasanya hatiku. Aku akhirnya bisa sedikit lebih tenang dan nyaman. Namun itu tidak berlangsung lama. Kejadian aneh itupun terulang kembali. Tepat pukul 23.30 WITA, bunyi-bunyi aneh itu kembali mengganggu ketenanganku. Semula aku yang sedang menonton televisi di ruang tamu, menjadi tegang dan sangat ketakutan. Sampai-sampai aku mengalah dengan rasa takutku, dengan sangat terpaksa aku harus tidur di ruang tamu.
            Sungguh sudah hampir lima kali aku mengalami kejadian aneh ini, semenjak pindah beberapa waktu lalu. Rasanya aku ingin berpindah ke tempat yang lebih nyaman dan aman lagi. Namun mustahil bagiku untuk kembali menjual rumah megah nan mewah ini.
            Akhirnya aku memberanikan diri untuk memerangi rasa takutku itu. Aku mencoba untuk memergoki aksi orang iseng tersebut. “Kalau sampai ketahuan, akan kuhabisi dia!” ungkapku dalam hati. Jam di kamarku menunjukkan tepat pukul 23.00 WITA, aku mulai bersiaga di samping jendela kamarku sambil membawa sebuah raket nyamuk. Waktu terus saja berlalu, namun aku tak kunjung mendapati orang itu mengusik ketenanganku. Akupun merasa lelah dan ngantuk. Rasanya sia-sia saja menunggu orang itu. Dengan sisa tenagaku, aku mengunci seluruh pintu rumahku dan berbaring di ranjang kesayanganku.
            Sang Fajar terlihat mulai memancarkan cahayanya yang cemerlang. Entah mengapa, aku merasa aneh hari ini, dan benar saja! Aku bangun kesiangan, ya ampun.. jam di kamarku sudah menunjukkan pukul 12.00 WITA. Sungguh ini semua gara-gara aksi nekatku semalam. Untung saja ini hari Minggu, hari di mana kita, kaum pelajar mengalami kebebasan.
            Namun, tetap saja aku merasakan rasa khawatir yang cukup mendalam, perihal kejadian itu. Malamnya, aku mencoba bersiaga kembali di samping jendela itu. Tepat pukul 23.15 WITA, orang itu mengusik ketenanganku kembali. Aku yang setengah tertidur, terkejut, dan lompat dari ranjang. Akupun membuka jendela kamarku dan menakut-nakutinya dengan raket nyamuk itu.
            Rupaya aku mendapati orang itu terjatuh akibat terdorong kaca jendelaku. Akupun segera menuju ke taman belakang rumahku untuk menemui orang itu. Setelah sampai di taman, ternyata dia seorang lelaki, yang sudah terkulai lemas tak berdaya, akibat tamparan hangat kaca jendelaku tadi. Langsung saja aku memarahinya.
            “Oh... rupanya kamu yang selalu menggangguku!” kataku dengan lantang.
            “Ampun... ampun... mbak” jawab lelaki itu dengan penuh rasa kaget.
            “Mau ngapain kamu ke sini? Mau maling ya?” tanyaku menjebak penuh amarah.
            “Eng.... enggak mbak” jawabnya ketakutan.
            “Lantas? Apa?” tanyaku.
            “Aku cuma mau minta nomor Hp mbak...” jawabnya setengah ketakutan.
            “Hah? Apa? Jangan main-main kamu! Mau kena sengatan raket kamu?!”
“Ammmpunnn...serius mbak... cu.. cuma.. mau minta nomor Hp mbak, soalnya kata  Ayah, mbak belum ngasih nomor Hp waktu administrasi seminggu lalu dan mbak juga belum membayar tagihan listrik.” jawab lelaki itu.
“Lah! Bilang toh kalau begitu! Kenapa tidak minta siang-siang saja? Kenapa harus sekarang?” ungkapku.
“Habisnya mbak sih menutup pintu terlalu rapat, saya kira tidak ada orang. Awalnya Ayah saya melarang untuk melakukan hal ini, tapi saya nekat mbak supaya urusannya cepat selesai.” jawabnya menjelaskan.
“Oalah... gak ketok pintu sih... bagaimana mau tahu kalau ada orang.” jawabku cukup menyesal.
“Hehehehe... maaf atuh mbak. Kalau begitu saya minta nomor Hpnya boleh?” kata lelaki iu.
“Oh... boleh” jawabku.
Akupun mengambil secarik kertas dan menuliskan nomor Hpku dan memberikan secarik kertas itu padanya. Rupanya lelaki itu anak kepala RT di lingkungan tempatku tinggal. Usai mengucapkan terimakasih, diapun berpamitan serta memberikan senyuman hangat dan segera kembali ke rumah.
“Pantas saja bisa masuk, habisnya rumahku ini tidak kupagari.” ungkapku dalam hati.

Semenjak kejadian itu, aku mencoba untuk menjadi orang yang lebih terbuka di lingkungan tetanggaku dan sampai sekarang ini, aku terus menjalin hubungan baik dengan tetangga di sekitar rumahku.

Dari                   : Denisward Eurico Ratahny - Mataram
Judul                 : Cerpen
MISTERI JENDELA KAMAR