• LinkedIn

Rabu, 22 Januari 2020

Korean wave: Sebuah Fenomena Keberhasilan Pemerintah Korea Menerapkan Diplomasi Kebudayaan

20.50 // by KIBcentre // No comments



by Achmad Romadon Mubarok

Diplomasi kini tidak serta merta selalu diselesaikan melalui instrumen politik maupun ekonomi untuk menghalau pecahnya peperangan. Seperti gagasan yang pernah diungkapkan oleh Diamond dan Mc Donald pada tahun 1996 terkait diplomasi, mereka berdua mengungkapkan beberapa cara  atau konsep untuk melihat proses pembentukan perdamaian internasional sebagai bagian dari sebuah sistem kehidupan yang disebut multi-track diplomacy. Salah satu dari multi-track diplomacy adalah diplomasi kebudayaan, menarik di era kontemporer ini diplomasi yang mengerahkan dimensi kebudayaan seperti pendidikan, seni, budaya, dan sebagainya yang mana digunakan oleh beberapa negara dunia dalam mempromosikan nilai-nilai perdamaian. Menurut Warsito dan Kartikasari dalam bukunya yang berjudul “Diplomasi Kebudayaan: Konsep dan Relevansi bagi Negara Berkembang, Studi Kasus Indonesia” (2007: 4), diplomasi budaya dipahami melalui pengertian yang definitif, dapat diartikan sebagai usaha suatu negara untuk memperjuangkan kepentingan nasionalnya melalui dimensi kebudayaan, baik secara mikro, seperti pendidikan, ilmu pengetahuan, olahraga, dan kesenian ataupun secara makro, seperti propaganda. Tulisan kali ini mengangkat penggunaan diplomasi kebudayaan yang digunakan oleh Pemerintah Korea sekaligus sebagai alat diplomasi untuk memperbaiki reputasi negara tersebut.

Sejak tahun 1980-an, Asia Timur telah mengalami ledakan produksi budaya yang populer seperti film, pop music, animasi, komik, program televisi, dan majalah fesyen yang mana telah meluas, tidak hany secar domestik melainkan lintas negara bahkan lintas regional (Otmazgin & Ben-Ari, 2011: 3). Korea Selatan, merupakan salah satu negara di Asia, di mana pertumbuhan industri budaya sangat berkembang pesat. Salah satu demam budaya Korea yang melanda dunia ialah Korean wave. Korean wave atau dalam istilah lain dikenal sebagai Hallyu, sebuah sitilah yang disematkan oleh jurnalis Tiongkok tahun 1990-an, di mana industri hiburan Korea Selatan seperti pop korea populer di kalangan pemuda Tiongkok. Akibatnya, timbul-lah cultural exchange yang mana Hallyu memicu masyarakat Tiongkok mempelajari bahasa Korea dan termasuk kebudayaannya. Korea Selatan memang sejak lama dikenal tipikal masyarakatnya sangat menjaga nilai tradisi dan kebudayaan leluhur, sehingga tak heran jika masyarakat Korea sangat bangga dengan apa yang ia kenakan, ia katakan dan ia makan (kebudayaan Korea).

Karakter yang kuat pada jati diri masyarakat Korea sebagai pemicu menguatnya nation-building Korea, yang mendorong meningkatnya industri hiburan di Negeri Gingseng tersebut. Alhasil, industri yang memfasilitasi pop Korea dan drama Korea memperoleh popularitas yang tinggi di industri hiburan Asia. Prestasi seni yang menggembirakan bagi Korea Selatan, ketika drama Korea yang berjudul What is Love All tayang di stasiun televisi Tiongkok (CCTV) pada tahun 1997, berhasil mendapat respon yang sangat positif dari masyarakat Tiongkok (Kim & Jin, 2016: 1). Sementara pada abad ke-21, Korean wave terus berkembang di berbagai negara, mulai dari aspek gaya berpakaian, gaya penataan rambut hingga K-Pop, salah satu tarian asal Korea Selatan adalah Gangnam Style yang sempat booming di seluruh dunia pada pertengahan tahun 2012 dan sempat merajai Youtube, sebagai video yang paling banyak ditonton di dunia, tembus 1 milyar penonton. Melihat kedua fenomena Korean wave yang berhasil membius warga dunia mengenal lebih dalam kebudayaan Korea Selatan, hal tersebut telah diprediksi oleh Joseph Nye dalam Jang (2012: 198), yang menjelaskan, salah satu cara untuk melakukan soft power adalah dengan cara cultural exchanges.

Cultural exchanges, menjadikan soft power yang dimiliki oleh Korea Selatan menimbulkan daya tarik tersendiri dari segi kebudayaan yang dimiliki, termasuk Korean wave. Kelebihan dari cultural exchange selain dinikmati oleh para pelaku bisnis industri hiburan Korea, Pemerintah Korea Selatan merasa diuntungkan karena berhasil membendung budaya milik Barat dan memiliki pengaruh kuat sebagai pemilik identitas Korean wave. Pemerintah Korea sendiri optimis akan perkembangan pesat industri hiburan Korea membuat negerinya akan semakin dikenal dunia, di samping prestasi ekonominya yang membanggakan. Pemerintah Korea sepertinya menginginkan fenomena Korean wave tidak berlangsung sementara, sebuah prestis bagi Korea apabila budayanya dikenal oleh banyak negara. Oleh sebab itu, Pemerintah Korea melalui diplomasi kebudayaan maupun promo budaya lewat perwakilan atau diaspora Korea di seluruh dunia, berusaha membangun citra yang positif terhadap budaya Korea (nation-branding). Dari segi ekonomis, Hallyu mendatangkan pundi-pundi Won bagi Korea. Contohnya ketika drama Korea yang mewabah di kalangan remaja Asia, tempat-tempat yang pernah digunakan syuting pun seperti Pulau Jeju, kini menjadi salah satu destinasi wisata populer andalan Korea dan jutaan wisatawan mancanegara mengunjungi Korea tiap tahunnya.

Optimistis Pemerintah Korea terlihat dari dukungan pemerintah dan berkontribusi dalam demam Hallyu. Pemerintah Korea sadar, dengan besarnya dukungan yang diberikan kepada palaku industri hiburan maupun diplomasi kebudayaan yang dilakukan secara formal oleh negara, hal ini dapat menjauhkan diri Korea dari terkena dampak globalisasi yaitu westernisasi. Untuk meredam gempuran industri entertainment dari Barat, Pemerintah Korea Selatan membentuk KTO (Korean Tourism Organization) dan KOFIC (Korean Foundation for International Cultural Exchange), sebuah organisasi khusus di bawah kendali Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata Republik Korea (MCST). Di sini, Pemerintah Korea sangat berperan, pemerintah membentuk KOFIC bertujuan untuk mempromosikan  dan mendukung film-film Korea, selain itu pemerintah juga memberikan stimulus terhadap industri hiburan Korea dengan memberikan insentif dana, kebijakan, penelitian, pelatihan profesional, dan pendidikan. Selain itu, Pemerintah Korea turut terlibat dalam nation-branding, seperti pernyataan Presiden Korea Selatan Lee Myung-Bak yang menyesalkan persepsi masyarakat internasional yang masih memandang Korea pada saat itu identik demonstran-jalanan, perang dengan Korea Utara dan ketegangan dengan Tiongkok. Korea Selatan merasa berhak mendapat respek dari dunia internasional. Oleh karena itu, diperlukan sebuah nation-branding lewat Korean wave, yang menurut (Szondi, 2008) mampu merefleksikan sebuah negara (soft power) dibanding penggunaan instrumen militer atau ekonomi dalam dunia internasional. Jika negara berhasil memperkuat nation-branding di mata internasional, dengan sendirinya negara tersebut memperoleh respek dan penerimaan yang baik oleh dunia internasional.

Kesimpulan dari tulisan kali ini menunjukkan bahwa pengaplikasian budaya sebagai instrumen politik luar negeri oleh Korea ternyata mampu mepertegas eksistensi Korea bahwasanya tidak benar adanya anggapan bahwa Korea sebagai negara konfrontatif, penuh konflik. Persepsi masyarakat internasional ditepis oleh Pemerintah Korea yang berhasil membangun nation-branding untuk mewujudkan citra positif Korea di mata internasional. Salah satu cara diplomasi yang berhasil diaplikasikan oleh Korea hingga kini adalah diplomasi kebudayaan. Korea memilih menggunakan soft power tanpa mengesampingkan hard power. Melalui soft power, yang mana salah satu elemennya adalah kebudayaan, Korea mengembangkan kesempatan untuk memadukan kedua unsur antara budaya tradisional dan kontemporer, seperti yang telah benayak diwujudkan pada film-film atau drama Korea, fesyen dan musik (K-Pop). Ditambah dukungan Pemerintah Korea melalui kementerian terkait untuk memberikan dukungan baik materil maupun inmateriil. Peluang potensi kebduayaan yang dimiliki Korea nyatanya berkontribusi pada perkembangan ekonomi sekaligus menaikkan citra positif Korea, di samping dikenal sebagai negara maju secara kemampuan ekonomi juga maju secara kebudayaan, tidak kalah dengan pengaruh budaya Barat.

Referensi:
Gunjoo Jang, W. K. 2012. Korean Wave as Tool for Korea's New Cultural Diplomacy. Scientific Research Publishing, 196-202.
Kim, tae Young & Jin, Dal Yong. 2016. Cultural Policy in the Korean Wave:  An Analysis of Cultural Diplomacy Embedded  in Presidential Speeches. Canada: Simon Fraser University.
Otmazgin, Nissin & Ben-Ari, Eyal. 2011. Cultural Industries and the State in East and Southeast Asia dalam Popular Culture and the State in East and Southeast Asia. New York: Routledge.
Tulus Warsito dan Wahyuni Kartikasari. 2007. Diplomasi Kebudayaan: Konsep dan Relevansi bagi Negara Berkembang, Studi Kasus Indonesia. Yogyakarta: Ombak. hal. 4.

0 komentar:

Posting Komentar